GAP THEORY TIDAK ALKITABIAH

GAP THEORY & BUMI BERPUTAR PADA POROSNYA TIDAK ALKITABIAH

Beresith bara Elohim et ha-shaMayim we-et ha Eretz
Pada mulanya Allah menciptakan dua langit itu dan bumi itu, Kejadian 1:1
We-ha-erets hayetah tohu wa-wohu we-choshech al-penei tenom we-Ruakh Elohim merachefet al Penei ham-Mayim.
Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air (Kejadian 1:2)
Wai-yomer Elohim ye-hi or wayehi or.
Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. Kejadian 1:3

1. Kata “bara” adalah menciptakan/mewujudkan dari tidak ada, menjadi ada, menjadi sebuah wujud. Dalam kasus “Qal” kata “bara” dipergunakan untuk Allah, artinya siapapun tidak akan sanggup “menciptakan” sesuatu dari tidak ada menjadi ada selain Allah, hal ini diperkuat dengan kasus “Hiphil” dimana penyebab pencipitaan adalah Allah.

Sementara kata ”asah” memiliki arti “membuat” secara umum. Kej. 6:22, “melaksanakan” Kej. 7:5, “melakukan” Kej. 21:1.

Jadi kata “asah” adalah kata umum dan bermakna lebih luas, sementara kata “bara” dalam bentuk kata causative lebih spesifik pada kasus cipta-mencipta,
contoh: Ingatlah apa umur hidup itu, betapa sia-sia Kauciptakan semua anak manusia! Mazmur 89:47. Jadi ketika Alkitab menggunakan kata “bara” maka lebih tertuju pada urusan cipta-mencipta, sementara ketika mengunakan kata”asah” bermakna “melaksanakan, melakukan, dll.

2. Apakah terjadi GAP/jeda antara Kej. 1:1-2 dengan Kej. 1:3?
Kaum INJILI tidak kuasa menahan gempuran para ilmuwan “kira-kira.” Yang hanya berani “memperkirakan” umur bumi berusia jutaan tahun. Dengan dalil bahwa terdapat JEDA jutaan tahun pada masa antara Kej. 1:1-2 dengan Kej. 1:3, SEKALIPUN kaum INJILI sudah merasakan titik “aman” karena telah berhasil BERKOMPROMI dengan para ilmuwan “kira-kira” tetap saja kompromi adalah tindakan yang tidak alkitabiah.

Alkitab akan membuktikan bahwa umur bumi hanya 6000an tahun, dan sanggup membuktikan bahwa GAP THEORY/Teori JEDA tidak alkitabiah.

a. Perlu diperhatikan kata “tohu wa-wohu” dalam kasus “Niphal” bumi sudah DICIPTAKAN TETAPI belum jadi, kosong, belum sempurna, without form, hal ini diperkuat dengan kata “hayetah” yang adalah bentuk “Paal, Niphal”/ pasif lampau dari kata “hayah”. Karena bentuk “Niphal” maka BUKAN “MENJADI TIDAK BERBENTUK” melainkan “TELAH DIJADIKAN dalam keadaan tiada berbentuk.
b. Perlu diperhatikan pada Kej. 1:2 kata “ha-erets”/ bumi itu, tidak diikuti lagi oleh kata “ha-shamayim”/langit itu. Artinya langit sudah “berwujud” atau memiliki ruang yang sempurna sekalipun benda-benda penerang BELUM diciptakan. (akan dijelaskan lebih lanjut di point berikutnya).
c. Perlu diperhatikan kata “we-Ruakh Elohim merachefet” dan/maka Roh Allah melayang-layang. Kata “merachefet” dalam kasus “Piel” berarti “mengitari” atau “melayang mengitari” BUKAN melayang-layang TANPA TUJUAN dan TANPA ARAH, kata ini terdapat juga pada Ulangan 32:11 dimana dikatakan bahwa burung rajawali “terbang mengitari”/ flutters di atas anak-anaknya.
d. Perlu diperhatikan kata “we”/dan, pada “we-chosekh”/ maka gelap gulita, dan “we-Ruakh”/ Roh…, dalam versi LAI, we diterjemahkan dengan kata “DAN.” Dalam hal ini kata “DAN” sangat tepat karena merujuk pada KRONOLOGI WAKTU yang BERSAMAAN dan DALAM SATU KEJADIAN.
e. Perlu diperhatikan kata imperative “ye-hi” berakar kata “hayah” menjadi, yang diterjemahkan oleh Dr. Strong sebagai “EXIST.” JADI tidak ADA PENCIPTAAN TERANG, tetapi TERANG itu “Exist” karena keberadaan Ruakh Elohim/ Roh Allah.

3. KESIMPULAN ALKITABIAH
1. Tidak ada GAP antara Kej. 1:1-2 dengan Kej. 1:3 karena terjadi dalam satu kronologi kejadian “itulah hari Pertama.” Sehingga teori umur bumi yang jutaan tahun jelas tidak alkitabiah
2. Bumi Tidak pernah berputar pada porosnya, tidak memutari matahari, karena pada Kejadian 1:2 yang bergerak mengitari adalah Roh Allah yang mana ke-exist-an terang itu dipandang baik, sehingga gerakan Roh Allah inilah yang menimbulkan siklus terang dan gelap dalam SATU HARI “itulah hari PERTAMA”

Bagi SIAPAPUN JUGA yang sanggup membuktikan secara ALKITABIAH bahwa BUMI BERPUTAR DAN BERGERAK MENGELILINGI MATAHARI, maka anda sudah sanggup membuat saya pribadi “BERTOBAT,”
SEBALIKNYA…
Jika ternyata TIDAK SATUPUN yang sanggup membantah ajaran alkitabiah tentang BUMI TIDAK MENGELILINGI MATAHARI, maka ketika ajaran alkitabiah dikumandangkan “itulah bukti aku mengasihi kamu dan kamu mengasihi aku.

Jika Cara Berpakaian “SETAN” Lebih Sopan dari Cara Berpakain Wanita Kristen…

Jika Cara Berpakaian “SETAN” Lebih Sopan dari Cara Berpakain Wanita Kristen…

Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, I Petrus 3:3

 

Pakaian yang Indah-indah, merujuk pada Text Yunani merupakan penggabungan kata dari “Imation” (pakaian) dan “kosmos”(dunia). Kata “kosmos” /dunia/duniawi, sangat memperjelas bagaimana layaknya seorang wanita Kristen alkitabiah berpakaian. “Kosmos” merujuk pada keduniawian atau trend mode yang mayoritas wanita menyukainya. Inilah batasan bagaimana cara wanita Kristen alkitabiah berpakaian, dimana tidak diperkenankan mengenakan pakaian yang trend mode-nya hanya memuaskan selera duniawi semata. Ketika ketidak-patutan, ketidak-sopanan, terpancar dari cara berpakaian wanita Kristen, maka muncul pertanyaan “INIKAH PARA WANITA PENGHUNI SORGA?”

Sekalipun kita tidak percaya adanya “kuntilanak” tetapi paling tidak kita bisa merenung dan memperhatikan “acting” mereka di layar televisi terutama cara mereka berpakaian, terlihat sopan dengan paha dan lengan yang tertutup.

JIKA CARA BERPAKAIAN

SORGA KEKEKALAN TIDAK BERSUSUN SEPERTI KUE LAPIS LEGIT

Sorga Kekekalan Bukan Bertingkat Seperti Kue Lapis Legit

Alkitab memberitahukan kepada kita bahwa orang-orang yang telah mengaminkan penebusan Kristus akan terlepas dari hukuman Allah dan masuk sorga kekekalan dan menjadi “warga kerajaan sorga.”

Permasalahan muncul ketika banyak “oknum” menafsirkan sorga tanpa dasar dan pengertian yang alkitabiah.

1.       Sorga kekekalan tidak bertingkat seperti kue lapis legit atau selayaknya gedung bertingkat.

-          Jika karena alasan “timbangan” perbuatan, membuat si “A” di sorga tingkat satu dan si “B” ditingkat  tiga, maka seharusnyalah neraka juga harus bertingkat, karena tingkat kejahatan manusia berbeda2

2.       Apalagi ada “oknum” yang mengklaim telah naik ke sorga tingkat tujuh bahkan oknum “YP” mengklaim diri pernah diangkat ke sorga tingkat kesembilan adalah klaim yang sah-sah saja namun dapat dipastikan tidak alkitabiah.

Ketika berbicara tentang sorga, maka Alkitab merujuk pada lokasi atau tempat yang letaknya di atas sana. Atau sering disebut sebagai langit atau langit2

1.       Indikasi langit yang diciptakan tertulis dalam Kejadian 1:1  “beresith bara elohim et hasamayim” pada mulanya Allah menciptakan  “dua” langit itu…”

-          Perhatikan akhiran “ayim” pada kata “samayim.” Merujuk pada kasus “jamak berjumlah dua” bedakan dengan akhiran “iyim” yang merujuk pada kasus jamak berjumlah “tiga atau lebih.

-          Samayim yang diciptakan Allah akan dilenyapkan karena tidak bersifat kekal. Terdiri dari langit di bawah atmosfer dan langit di atas atmosfer yang disebut dalam bahasa Ibrani “raqia” atau cakrawala.

2.       Indikasi langit ke tiga adalah sorga kekekalan, tempat tahta Allah dan malaikat-malaikatnya serta orang-orang yang telah lahir baru.

-          Dalam II Korintus 12:2 rasul Paulus diangkat ke sorga kekekalan tempat tahta Allah dan para malaikat

3.       Mengapa sorga kekekalan tidak bertingkat-tingkat?

-          Kata “τριτου ουρανου/ tritou ouranou” atau “sorga yang ketiga kalinya”

Merujuk pada kasus “attributive position”

 kata sifat + kata benda (kata benda jika tidak disertai artikel ho, he, to, dll)

dalam hal ini “tritou” (kata sifat, tunggal, genetive) + “ouranou” (kata benda, tunggal, genetive) berarti “SORGA YANG KETIGA KALINYA”

Kalau “tiga” yang dimaksud adalah “tingkat bersusun tiga” maka seharusnya tertulis “triton” (genetive jamak) karena tertulis kata “tritou” maka artinya bukan “tiga” melainkan “tiga kali”kata “tritou” ini digunakan juga di dalam Matius 26:44

-          Jadi Rasul Paulus diangkat ke sorga fase ketiga/ sorga yang ketiga-kalinya, yaitu fase kekekalan.

·         Fase pertama, sebelum hingga kematian Kristus di kayu salib, ditandai dengan bangkitnya orang-orang kudus sesaat setelah ucapan “sudah selesai” dari Kristus.

·         Fase kedua, masa kematian Kristus di kayu salib hingga berakhirnya kerajaan 1000 tahun

·         Fase ketiga, sorga kekekalan, sorga

sorga bertingkat tiga

BUMI TIDAK MENGELILINGI MATAHARI (geosentris alkitabiah)

BUMI TIDAK MENGELILINGI MATAHARI

 

Sadarkah anda, bila benar bumi berputar mengelilingi matahari? Bumi sudah diciptakan pada hari pertama, sementara matahari baru diciptakan pada hari keempat? Sungguh janggal kejadian ini? Pada hari pertama hingga hari ketiga bumi mengitari apa? Apakah Alkitab Salah? Ataukah Tuhan tidak mahatahu, seolah-olah kepandaianNya dikalahkan oleh para ilmuwan yang menolak kebenaran Alkitab dengan pendapat mereka bahwa bumi mengelilingi matahari?

 

Alkitab berkata bahwa bumi tidak mengelilingi matahari, tapi sebaliknya mataharilah yang mengelilingi bumi.

 

Kasus di dalam Kejadian 1:1-2, Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

 

Terindikasi bumi tidak berputar pada porosnya dan tidak berotasi mengelilingi matahari, sebab matahari belum diciptakan pada hari pertama. Justru gerakan terang Roh Allah melayang-layang mengitari dan menyinari bumi hingga terjadinya petang dan pagi. Setelah hari keempat, Allah menciptakan matahari untuk menggantikan gerakan Allah.

 

Jadi bumi tidak berputar mengelilingi matahari dulu, kini, hingga musnahnya bumi. Betapa kebenaran Alkitab telah dinodai dengan pengajaran yang di’teorikan’ oleh para ilmuwan penentang Alkitab.

 

2 Kor. 13:8 Karena kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran.

 

MATAHARI MENGELLINGI BUMI (geosentris alkitabiah)

Matahari BEREDAR MENGELILINGI Bumi

Mazmur 19:6

 *ITB* (19-7) Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya.

*KJV* His going forth is from the end of the heaven, and his circuit unto the ends of it: and there is nothing hid from the heat thereof.

** וְהוּא כְּחָתָן יֹצֵא מֵחֻפָּתֹו יָשִׂישׂ כְּגִבֹּור לָרוּץ אֹֽרַח׃

TUHAN Maha Mengetahui, memberikan pengetahuanNya kepada umatNya dengan mutlak benar dan tiada salah.

Melalui ayat ini, Tuhan ingin supaya umatNya percaya bahwa Matahari berputar mengelilingi bumi, bukan bumi mengelilingi matahari.

Kata Ibrani ‘motsa’ berarti bergerak terbit, dalam versi KJV diterjemahkan ‘going.’ Bukanlah kata kiasan apabila Tuhan Sang Pencipta berkata ‘Matahari Terbit’ artinya mataharilah yang bergerak terbit bukan bumi yang bergerak untuk ‘mencari siang’ dan bergerak membelakangi matahari supaya ada malam.

Kata Ibrani ‘tequfah’ berarti putaran/gerakan berputar, dalam versi KJV

diterjemahkan ‘circuit,’ LAI menterjemahkan BEREDAR, Tuhan maha tahu dan maha benar, ketika Ia berfirman bahwa matahari beredar berputar mengelilingi bumi maka perputaran matahari mengelilingi bumi dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan.

*[[Mazmur 119:43]]* Janganlah sekali-kali mencabut firman kebenaran dari mulutku, sebab aku berharap kepada hukum-hukum-Mu.

BUMI TIDAK BEROTASI (geosentris alkitabiah)

BUMI DIAM TAK BEROTASI

 

Serangan terhadap Alkitab sangat bervariasi dan terjadi di segala lini. Menyerang kebenaran Alkitab sama artinya dengan menyerang Tuhan. Tidak mempercayai kebenaran Alkitab sama dengan tidak mempercayai Tuhan.

 

Geosentris adalah teori kebenaran yang Tuhan ajarkan kepada umatNya melalui Alkitab. Secara nyata dan sesungguhnya bumi tidak berputar pada porosnya dan tidak berotasi mengelilingi matahari. Sungguh miris kondisi ilmu pengetahuan dan keimanan di Indonesia yang sangat dipengaruhi oleh teori evolusi dan teori Big Bang yang meracuni dunia pendidikan anak cucu orang-orang percaya.

 

Pada kesimpulan hati nurani mereka akhirnya berkata bahwa Alkitab penuh kesalahan karena melawan Ilmu pengetahuan. Lambat laun kecintaan pada Alkitab menjadi berkurang itu artinya kecintaan pada Tuhan pun berkurang.

 

Saat ini Tuhan sedang mencari para ilmuwan yang mengasihi Tuhan dan kebenaran Alkitab. Yang berani berkata bahwa bumi diam tak berputar.

 

Mazmur 93:1

 

*ITB* TUHAN adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, TUHAN berpakaian, berikat pinggang kekuatan. Sungguh, telah tegak dunia, tidak bergoyang

 

*ITL* Bahwa Tuhan yang memegang perintah, dan Iapun berpakaikan kemuliaan, ia itulah perhiasan Tuhan, dan kuasa itulah mengikat pinggangnya. Maka bumi ini telah tetap, tiada ia akan bergoncang.

 

*KJV* The LORD reigneth, he is clothed with majesty; the LORD is clothed with strength, wherewith he hath girded himself: the world also is stablished, that it cannot be moved.

 

 

 

** יְהוָה מָלָךְ גֵּאוּת לָבֵשׁ לָבֵשׁ יְהוָה עֹז הִתְאַזָּר אַף־תִּכֹּון תֵּבֵל בַּל־תִּמֹּֽוט׃

 

Kata ‘kun’ dlm bahasa ibrani tegak, tidak miring seperti anggapan ilmuwan tanda kutip. Sementara kata ‘mo’ dalam bahasa Ibrani, gerak. Ayat tersebut di atas ingin memberitahukan kita bahwa bumi TEGAK dan TIDAK BERGERAK, tidak berputar pada porosnya dan tidak berotasi mengelilingi matahari

Sorga Bertingkat Tiga

1. Sorga hanya bertingkat tiga, jadi barangsiapa mengklaim diri pernah naik ke sorga tingkat lima, tujuh, sembilan, dll dapat dipastikan tidak alkitabiah
2. Sorga tingkat ketiga dihuni oleh orang-orang yang telah lahir baru, yang mengaminkan penebusan dan penggantian hukuman Kristus.
3. Sorga tidak bertingkat-tingkat seperti gedung bertingkat, tempat rasul Paulus, para martir, dan siapapun yang telah lahir baru adalah sama, hanya “mahkota” yang membedakan
4. Sekalipun manusia yang masih hidup belum pernah ke sorga, tetapi Alkitab telah menyatakannya.
5. Kaum geosentris alkitabiah dapat menyingkap rahasia yang agung ini.
1. Sorga hanya bertingkat tiga, jadi barangsiapa mengklaim diri pernah naik ke sorga tingkat lima, tujuh, sembilan, dll dapat dipastikan tidak alkitabiah<br />
2. Sorga tingkat ketiga dihuni oleh orang-orang yang telah lahir baru, yang mengaminkan penebusan dan penggantian hukuman Kristus.<br />
3. Sorga tidak bertingkat-tingkat seperti gedung bertingkat, tempat rasul Paulus, para martir, dan siapapun yang telah lahir baru adalah sama, hanya "mahkota" yang membedakan<br />
4. Sekalipun manusia yang masih hidup belum pernah ke sorga, tetapi Alkitab telah menyatakannya.<br />
5. Kaum geosentris alkitabiah dapat menyingkap rahasia yang agung ini.” src=”<a href=https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-frc3/t1/s403x403/1609574_269264123232730_1711469565_n.jpg&#8221; width=”403″ height=”301″ />

PENYIMPANGAN DI DALAM GEREJA KATOLIK (Part I)

PENYIMPANGAN DI DALAM GEREJA KATOLIK (Part I)
Oleh alkitabiah

Salam sejahtera,

Hal tentang pemberian gelar Santo dan Santa oleh gereja Katolik adalah bentuk menyimpangnya GRK (Gereja Roma Katolik) dari ajaran alkitabiah.

Gelar santo dan santa diberikan oleh mereka kepada seseorang berdasarkan pada penilaian manusia, bersifat subyektif dan tidak alkitabiah.
1. Penilaian manusia: pemberian gelar santo dan santa ditentukan oleh GRK kepada seseorang sesuai dengan yang GRK mau/inginkan/kehendaki.
2. Bersifat subyektif: Kriteria pemberian gelar dibuat oleh GRK tidak bersifat obyektif, tetapi bersifat subyektif, karena landasannya adalah dogma buatan mereka sendiri yang jauh dari kebenaran Alkitab
3. Tidak Alkitabiah: Karena menyimpang dari ajaran Alkitab maka dapat dipastikan bahwa pemberian gelar santo dan santa oleh GRK di dasarkan pada tradisi paganisme

PERTAMA, kata santo/ santa (latin), hagio/ hagia (yunani), qadosy/ qadosyah (ibrani), qudus/ qudusyatun (arab), santo/santa di dalam ALKITAB diberikan kepada SETIAP ORANG PERCAYA bukan orang-orang tertentu dari orang-orang percaya. Kalau kita renungkan dengan baik ayat-ayat berikut ini, I Korintus 1:2, Efesus 1:1, Filipi 1:1, Roma 1:7, 16:15, kata hagiois/ orang-orang kudus di dalam ayat-ayat tersebut ditujukan kepada orang-orang yang percaya yaitu kepada saya dan anda yang telah bertobat dan percaya kepada Kristus. Keistimewaan SETIAP orang-orang yang telah bertobat adalah memiliki:
1. Posisi kudus/ santo/ hagio/ qadosy/ qudush
2. Hati kudus Yehezkiel 36:26-27
3. Karakter yang terus dibangun I Yohanes 2:6
Jadi sangat tidak alkitabiah apabila gelar santo-santa diberikan kepada SEBAGIAN/ ORANG-ORANG TERTENTU SAJA dari orang-orang percaya. Anda sebagai orang Katolik tidak disebut santo dan santa karena anda bukan bagian dari “orang-orang tertentu” tersebut.

KEDUA, pemberian gelar santo dan santa oleh GRK hanya diberikan kepada “orang-orang tertentu” yang sudah meninggal. Inipun tidak memiliki dasar yang alkiktabiah. Padahal kalau kita renungkan kembali ayat-ayat tersebut di atas, maka gelar “orang-orang kudus” ditujukan kepada orang-orang yang masih hidup.

KETIGA, penyimpangan yang mengarah kepada doktrin paganisme diterapkan oleh GRK. Di mana santo dan santa versi GRK dijadikan oleh mereka sebagai “PELINDUNG GEREJA.” Biasanya ditandai dengan prosesi menaruh potongan tulang atau rambut “sang santo pelindung” di dalam gereja. Inipun tidak alkitabiah

GBU

Persamaan Dukun Ponari dan Gerakan Karismatik

“Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh. Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya, Markus 16:17-20

 

Saat ini marak terjadi salah tafsir yang berujung pada kesesatan-kesesatan. Kita semua sangat memaklumi terjadinya fenomena DUKUN PONARI yang belakangan ini ramai dikunjungi pasien yang ingin disembuhkan olehnya. Dukun Ponari tidak melandaskan tidakannya pada Alkitab, wajar dia berbuat demikian karena Dukun Ponari tidak memiliki rambu-rambu dari Allah yaitu ALKITAB. NAMUN yang sangat menyedihkan adalah fenomena inipun muncul di dalam gereja yang bahkan kemunculannya jauh sebelum DUKUN PONARI muncul. Padahal kita sudah memiliki rambu-rambu dari Tuhan yaitu ALKITAB. Jadi kesamaan DUKUN PONARI dan gerakan karismatik adalah sama-sama tidak mentaati rambu-rambu dari Allah yaitu ALKITAB. Bedanya hanya, Dukun Ponari tidak mengetahui ada rambu-rambu sedangkan Gerakan Karismatik sudah mengetahui ada rambu-rambu tetapi sengaja dilanggar.

 

Berikut ini patut direnungkan:

Kalau kita tengok kembali Ayat di atas terutama pada ayat 20, berbunyi ton (itu) logon (firman) bebaiountos (sedang meneguhkan) dia (melalui) ton (itu) epakolouthounton (sedang mengikuti) semeion (tanda-tanda). Yang bila diartikan secara literal berbunyi demikian …Sedang meneguhkan firman itu melalui tanda-tanda yang sedang menyertai (firman itu). Menarik disimak bahwa ternyata kata bebaiountos dan epakolouthounton memiliki bentuk present active participle yang artinya merujuk pada tindakan aktif kontemporer atau tindakan aktif sezaman/ sewaktu/ setempo.

Zaman apa yang dimaksud? Tentu Zaman di mana firman Tuhan atau Alkitab belum TEGUH atau belum selesai ditulis. Setelah Alkitab selesai ditulis dan firman Tuhan SUDAH TEGUH maka KUASA-KUASA yang disebutkan di atas sudah dapat dipastikan BUKAN BERASAL DARI TUHAN.

APAKAH ALLAH MASIH MENDATANGKAN MUJIZAT? MASIH, Allah masih mendatangkan MUJIZAT tetapi tidak mengKUASAkan kepada seseorang. Allah dapat menurunkan mujizat secara langsung. Jadi tidak ada seorangpun yang berhak mengklaim punya KUASA PENYEMBUHAN, PUNYA KUASA ILLAHI, dll. Alkitabiahnya, KUASA itu bukan berasal dari TUHAN.

 

Alkitab Adalah Satu-satunya Firman Allah

Sempurna Berarti Lengkap

“Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap,” I Korintus 13:8-10.

Saya akan memberi perhatian khusus pada kata “sempurna.” “Sempurna” di dalam ayat tersebut adalah “teleion” berbentuk kata SIFAT, nominative netral. Bukan “teleios” yang berbetuk kata adverb atau kata keterangan. Apa perbedaan dari kedua kata ini. Kata SIFAT “teleion” berarti merujuk pada kesempurnaan atau kelengkapan “yang bersifat” misalnya, hukum, peraturan, tata tertib, dll. Sedangkan Kata keterangan/ adverb pada teleios merujuk pada keterangan waktu  dan tempat.

 Banyak kalangan yang menafsirkan yang sempurna adalah kedatangan Tuhan Yesus yang kdua kali. Sehingga mereka melegalkan wahyu-wahyu liar di luar Alkitab dan mengklaim bahwa wahyu tersebut berasal dari Tuhan. Saya ingin mengkoreksi pandangan tersebut. Bahwa kata “sempurna” di dalam ayat tersebut TIDAK berbentuk kata keterangan (adverb)  “teleios” melainkan berbentuk kata SIFAT ‘teleion. Sehingga TIDAK BISA diartikan sebagai kedatangan Tuhan Kedua Kali karena hal tersebutmerujuk pada kata keterangan.  

Oleh karena bentuk katanya adalah kata SIFAT nominative netral “teleion” maka sempurna yang dimaksud adalah LENGKAP yang merujuk pada “hukum yang lengkap.” Apakah hukum yang sempurna/ lengkap itu? Jawabannya adalah ALKITAB.

 Dan setelah yang sempurna/ lengkap/ teleion tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap. Apakah yang tidak sempurna itu? Yang tidak sempurna adalah yang berhubungan dengan pewahyuan /apokalupsis. Karena WAHYU TUHAN sudah sempurna yaitu ALKITAB dari Kejadian 1:1 sampai Wahyu 22:21 selesai ditulis maka Tuhan sudah tidak mendatangkan Wahyu tambahan lagi.

 Alkitab Tidak Boleh Ditambahi Dengan Wahyu Lain

Alkitab adalah wahyu Tuhan yang sempurna/ lengkap, sehingga TUHAN sudah tidak menurunkan lagi wahyuNya baik TULISAN maupun LISAN Apakah Kitab-kitab agama lain Firman Allah? Jawabannya BUKAN Firman Allah, karena di luar Alkitab, tidak ada Firman Allah tertulis.

 Demikian juga dengan kasus seseorang yang dapat berbicara langsung dengan Tuhan, Mendapat penglihatan dari Tuhan, Bahasa Roh, Nubuat, dll, Itu semua BUKAN DARI TUHAN. Karena setelah Wahyu 22:21 selesai ditulis Tuhan sudah tidak menurunkan wahyuNya, baik wahyu lisan (spoken word) maupun wahyu tertulis (written word).

 Bagaimana dengan rhema? Rhema adalah perkataan Tuhan, merujuk pada kesempurnaan wahyu Tuhan yaitu Alkitab, maka TUHAN sudah tidak mendatangkan lagi rhema.

 Apabila kita ingin mendapatkan pengajaran yang bersifat devosional maupun doktrinal tidak perlu cari-cari wahyu lain di luar Alkitab, cukup dengan + Doa Tiap Hari* Baca Kitab Suci + Kalau Mau Tumbuh._

 Kita tidak perlu mencari extra biblical authority (wahyu di luar Alkitab) karena dapat dipastikan yang berperan bukan lagi TUHAN.

 Menurut anda?

 GBU.

 Posisi alkitabiah, berhati alkitabiah, berpikir alkitabiah.

Penyimpangan Melalui Ibadah Pelepasan

Ditampilkan dalam blog Indonesia, blog gratis, dengan lampiran buku murah dan buku gratis. Diedit oleh orang-orang yang mencintai ajaran Kristen yang alkitabiah. Kami mengundang anda para penulis yang merindukan karyanya dibagikan secara gratis maupun ingin menjualnya dengan semurah mungkin silahkan iklankan di blog ini.

Artikel ini dirangkum dari buku Gbl. Firman Legowo yang berjudul Ibadah Pelepasan. Di mana di dalamnya dapat dirangkum sebagai berikut:

Konsep yang Tidak Alkitabiah

Pada prakteknya, ajaran tentang ibadah pelepasan sangat bertentang dengan doktrin keselamatan yang alkitabiah. Manifestasi-manifestasi yang berlebihan diperagakan dengan tidak me,perhatikan kaidah yang alkitabiah. Dan mayoritas yang mengikuti ibadah pelepasan adalah orang Kristen itu sendiri. Yang dilepaskan dan yang berperan sebagai si penengking sama-sama orang Kristen. Lalu di mana letak ketidak-alkitabiah-an dari ajaran ini? Orang Kristen masih perlu dilepaskan! Inilah letak kesalahan dalam memahami konsep doktri keselamatan. Bagaimana mungkin orang Kristen yang sudah lahir baru, masih ada iblis di dalamnya? Bagaimana mungkin Roh Kudus yang adalah Allah berdiam bersama-sama di dalam diri orang Kristen yang telah lahir baru? Saya tidak dapat membayangkan efek kesesatan yang sudah, sedang dan akan terjadi pada kekristenan apabila ajaran tentang ibadah pelepasan tidak diluruskan. Efek negatif yang terjadi adalah adanya arus ribuan manusia yang mendatangi Kebaktian Penyembuhan Illahi yang akhirnya bisa dilihat sekarang ini, orang-orang yang mengaminkan ajaran tersebut mengimani Tuhan Yesus dengan salah. Mereka mencari Yesus demi berkat duniawi, demi penyembuhan penyakit, demi karir, demi jodoh, dll. Mereka tidak mencari YESUS YANG MENYELAMATKAN dari dosa.

Si pemegang otoritas dalam ibadah pelepasan biasanya mengeluarkan kata-kata yang berlebihan, seperti “saya perintahkan, saya patahkan, saya tengking, dll.” Itupun diucapkan dalam kata-kata yang meninggi (dalam beberapa kasus kata-kata tersebut disertai dengan teriakan-teriakan histeris). Seolah-olah mereka mengetahui tempat persembunyian iblis di dalam diri orang “Kristen.” Bahkan di kalangan mereka, dari mulut ke mulut dipopulerkan ajaran tentang klasifikasi “keterikatan roh.” Ada yang keterikatan roh zinah, ada yang keterikatan roh rokok, ada yang keterikatan roh judi, dll. Darimana dasar alkitabiahnya? Jawabannya sebenarnya mudah saja, orang-orang yang masih berzinah, berjudi, dll, adalah orang-orang yang belum LAHIR BARU alias belum KRISTEN walaupun KTPnya Kristen.

Konsep Pelepasan yang Alkitabiah

“Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih,” Kolose 1:13. Kata “melepaskan” di dalam bahasa Yunani tertulis “errusato” yang memiliki bentuk aorist passive indicative orang ketiga tunggal dari kata “ruomai.” yang artunya mengirim/ melepaskan/ membebaskan. Merujuk pada konteks ayat tersebut maka orang-orang yang percaya kepada Kristus telah dilepaskan dari kuasa kegelapan. Bentuk aorist adalah bentuk lampau/ past tense sehingga tepat sekali Lembaga Alkitab Indonesia menterjemahkannya dengan kata “telah.” Telah dilepaskan memiliki arti pelepasan terjadi pada orang Kristen yang lahir baru sekali seumur hidup, dan terjadinya pelepasan adalah pada saat mereka percaya dan bertobat serta menerima Kristus sebagai Juruselamat.

Bentuk passive voice kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia biasanya diawali dengan awalan”di” yang berarti “telah dilepaskan.” Sedangkan bentuk orang ketiga tunggal adalah kata ganti orang atau pelaku, “ia”apabila berbentuk kalimat aktif, berhubung kalimat tersebut berbentuk aktif maka ditempatkan dibelakang kata kerja menjadi “nya.” Dalam konteks ayat tersebut “errusato” berarti “telah dilepaskanNya.” Ini menjadi penting demi meluruskan konsep yang tidak alkitabiah yang terjadi pada ibadah pelepasan. Siapa yang dilepaskanNya? Setiap orang Kristen yang telah lahir baru. Siapa yang melepaskan kita? Tuhan Yesus langsung, tanpa melalui penengkingan, tanpa melalui pematahan, dll. Kapan kita dilepaskan? Ketika kita bertobat dan percaya kepada Kristus yang telah mati menggantikan hukuman yang seharusnya kita tanggung dan bangkit pada hari ketiga.

Jadi orang Kristen tidak perlu dilepaskan lagi. Oarng yang belum Kristenlah yang harus dilepaskan oleh Tuhan dengan cara bertobat dan percaya kepadaNya. Apabila kita menemukan seorang Kristen yang jatuh ke dalam perzinahan maka tuntunlah mereka kepada pertobatan, janganlah kita “berlagak” berkuasa dengan tengkingan-tengkingan yang hanya menjadi bahan ejekan iblis. Iblis tidak takut pada tengkingan tetapi yang ditakutkan iblis adalah ketika seseorang bertobat dan percaya kepada Kristus menjadi seorang Kristen yang lahir baru.

Penyesatan Melalui Bahasa Roh

Artikel ini terambil di dalam buku karangan Gbl. Firman Legowo yang berjudul Penyesatan Melalui Bahasa Roh Nubuat dan Pengetahuan. Berikut adalah cuplikannya yang terambil mulai dari halaman 12.

Arti dari Bahasa Lidah yang alkitabiah

 

 

Kata “glossai” adalah bentuk nomonative jamak dari glossa yang artinya perkataan-perkataan lidah. LAI menterjemahkan dengan bahasa roh, yang seharusnya lebih tepat diartikan sebagai bahasa-bahsa lidah. Bahasa lidah adalah salah satu karunia yang diberikan pada jemaat mula-mula untuk membangun jemaat lokal. Ada dua model bahasa lidah yang terjadi di dalam Alkitab,

1. Bahasa yang bisa dimengerti olah manusia

.

 

” Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain…” KPR 2:4. “Heterais glossais” dapat diartikan sebagai bahasa (manusia) lainnya. Tadinya tidak bisa bahasa Mandarin atau bahasa Perancis tetapi pada saat itu juga mereka dapat berbicara dalam bahasa-bahasa tersebut tanpa kursus bahasa terlebih dahulu.

2. Bahasa yang tidak dimengerti oleh orang lain

 

 

” Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia” I Korintus 14:2. “Lalon glosse” berkata-kata dalam bahasa lidah berbeda dengan “bahasa-bahasa lain” yang terjadi pada hari Pentakosta. Bahasa ini bukanlah bentuk bahasa komunikasi antar manusia. Mereka yang dikaruniakan bahasa lidah tidak berkata-kata kepada manusia tetapi kepada Allah. Ciri dari bahasa ini adalah tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya. “Oudeis gar akouei berarti tidak ada seorangpun yang mendengar akan mengerti, yang mengerti hanya Tuhan dan DIRINYA SENDIRI. Bahasa tersebut dikaruniakan Tuhan untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat rahasia dan pribadi antar seseorang kepada Tuhan.

Bahasa lidah yang terjadi saat ini

 

 

Setidaknya ada tiga hal yang membedakan antara bahasa lidah yang terjadi pada jemaat mula-mula (bahasa lidah yang alkitabiah) dan bahasa lidah yang terjadi pada saat ini (bahasa lidah yang tidak alkitabiah).

1. Kesurupan

 

 

Fakta yang ditemukan dari bahasa lidah masa kini adalah fenomena kesurupan. Manifestasi-manifestasi yang bersifat aneh dan mengerikan terjadi (jatuh telentang, mengucapkan kata-kata aneh yang diulang-ulang, lidah terasa kelu, muka memerah terasa menahan gejolak di dada, dalam beberapa kasus ada yang sampai muntah-muntah, dll). Tidak ditemukan manifestasi tersebut di dalam Alkitab. Manifestasi tersebut dapat ditemukan pada rituil ibadah para penyembah berhala, seperti atraksi kuda lumping, debus, tari Liong pada perayaan cap gomeh, dll.

Fakta yang juga tidak kalah penting tentang bahasa roh saat ini tidak alkitabiah dan berasal dari iblis adalah karena setiap orang yang dapat berbahasa roh saat ini sebenarnya sedang KESURUPAN. Bahasa lidah pada zaman para rasul, cirinya adalah yang tahu artinya hanya dua oknum yaitu, dirinya sendiri dan Allah, itu artinya terjadi dengan penuh kesadaran tanpa disertai manifestasi-menifestasi. Tetapi bahasa lidah yang terjadi saat ini layak disebut KESURUPAN karena DIRINYA SENDIRI juga tidak tahu artinya.

2. Kalimat yang diulang-ulang

 

 

“Sikiraba-raba, dididada-dididada, sililaba-laba silalama sande.” dan masih banyak inovasi kata yang tidak variatif terdengar pada saat orang berbahsa roh. COBA RENUNGKAN adakah yang dapat menjamin bahwa bahasa tersebut juga diucapkan oleh jemaat mula-mula ketika mereka berbahasa lidah? Tetapi saya dapat menjamin bahwa kata-kata tersebut sering diucapkan oleh suhu/ mentor/ pawang pemuja berhala.

 
Berakhirnya Bahasa Lidah

 

 

Kata “gossai pausontai” di dalam I Korintus 13:13 menarik untuk dipelajari. Pausontai adalah bentuk orang ketiga jamak future middle deponent indicative. Middle indicative adalah bentuk kata yang subjek dan objeknya sama, contoh: saya (subjek) melukai diri saya sendiri (objek). Artinya bahasa lidah yang terjadi di dalam Alkitab telah berhenti dengan sendirinya ketika pewahyuan yang telah sempurna tiba. Bahasa lidah dikaruniakan Tuhan kepada jemaat mula-mula karena proses pewahyuan Alkitab belum sempurna, tetapi setelah proses pewahyuan Alkitab sempurna dari Kejadian 1:1 sampai wahyu 22:21 maka bahasa lidah yang alkitabiah telah berhenti dengan sendirinya.

Kesimpulan

 

 

Jadi darimanakah datangnya bahasa roh saat ini? Jawabannya hanya ada dua

1. Dari diri sendiri, atau dengan bahasa lain dibuat-buat/ karangan sendiri.

2. Dari iblis, ada banyak orang yang mendapatkan bahasa roh tidak dengan dibuat-buat atau dikarang-karang. Tetapi sumbernya dari iblis, karena bahasa roh yang alkitabiah telah berhenti dengan sendirinya ketika proses pewahyuan Alkitab telah sempurna.

Penyesatan Melalui Minyak Urapan

Artikel ini dicuplik dari buku yang ditulis oleh Gbl. Firman Legowo yang berjudul Surat Terbuka Demi Menegakkan Kebenaran Alkitab. Dengan beraninya beliau menelanjangi orang-orang yang menurut beliau, menyimpang dari kebenaran Alkitab. Salah satu judul babnya adalah Penyesatan Melalui Minyak Urapan. Dengan singkat, padat dan jelas beliau menjelaskan bahwa konsep minyak urapan yang telah dipraktekkan oleh beberapa gereja yang menganut paham gerakan kharismatik adalah sesat. Minyak urapan tidak ubahnya seperti praktek perdukunan dengan mengatasnamakan kekristenan. Berikut ini adalah tulisan yang dikutip dari buku Gbl. Firman Legowo dimulai dari halaman 24.

Konsep Minyak Urapan di dalam Perjanjian Baru

“…Datanglah seorang perempuan kepada-Nya membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang mahal. Minyak itu dicurahkannya ke atas kepala Yesus, yang sedang duduk makan” Matius 26:7. Seorang perempuan pernah datang kepada Yesus dan mengurapiNya dengan Minyak Urapan “sungguhan.” Mengapa Tuhan Yesus tidak menolak ketika Dia diurapi dengan minyak wangi yang mahal? Karena Tuhan ingin membuktikan bahwa diriNya adalah seorang Mesias yang layak menerima Minyak Urapan. Minyak Urapan yang “beredar” adalah minyak urapan palsu yang berbeda dengan Minyak yang dituangkan di kepala Tuhan Yesus pada saat itu. Di sisi lain Maria pernah menggunakan minyak narwastu murni untuk mengolesi khaki Tuhan Yesus ketika Ia berkunjung ke Betania (Yohanes 12:2). Siapakah lagi di dalam Perjanjian Baru yang menerima Minyak Urapan? Tidak Ada seorangpun, selain Tuhan Yesus. Baik Rasul-rasul maupun orang-orang percaya pada saat itu tidak berhak menerima Minyak Urapan karena mereka bukanlah Mesias, sehingga mereka tidak boleh menerima minyak urapan.

Konsep Minyak Urapan yang Terjadi Saat Ini

Konsep pengurapan dengan media “minyak urapan” yang terjadi di beberapa gereja yang beraliran kharismatik saat ini sarat dengan kesalahan, tidak alkitabiah dan cenderung menyesatkan. Setidaknya terdapat empat kesalahan mendasar:

1. Konsepnya, tidak alkitabiah

Pada zaman Perjanjian Baru minyak urapan diterima Tuhan Yesus untuk membuktikan bahwa Ia adalah Mesias/ Yang Diurapi. Sedangkan konsep minyak urapan pada saat ini bertujuan untuk memulihkan kondisi perekonomian seseorang yang sedang “morat-marit,” membebaskan seseorang dari “kutuk” pisau operasi, menyembuhkan berbagai macam penyakit, agar mendapatkan jodoh, agar usaha/ bisnis seseorang lancar, dll. Konsep ini tidak alkitabiah dan meyesatkan karena konsep perdukunan masuk ke dalam gereja.

2. Bahannya, tidak alkitabiah

Minyak Urapan yang diterima oleh Tuhan Yesus adalah minyak yang mahal harganya yang disimpan di buli-buli pualam. Tetapi minyak urapan yang ada saat ini adalah minyak kelapa sawit yang hanya disimpan dibotol plastik biasa.

3. Orang yang mengurapi, tidak alkitabiah

Orang yang mengurapi dengan minyak urapan saat ini adalah orang yang tidak mengerti tentang konsep minyak urapan yang terjadi di dalam Alkitab. Pada saat Tuhan Yesus diurapi dengan Minyak Urapan, Ia bukan dalam keadaan sakit, atau dalam keadaan ekonomi yang morat-marit, atau supaya perekonomianNya menjadi lancar, dll. Tetapi Ia adalah Mesias yang layak menerima urapan. Tetapi sekarang, dukun telah masuk ke dalam gereja dengan berkedok sebagai hamba Tuhan.

4. Orang yang menerima pengurapan, tidak alkitabiah

Siapapun orangnya saat ini, tidak berhak menerima pengurapan karena mereka bukanlah Mesias. Kalau mau rejekinya lancar, cukup berdoa kepada Tuhan sambil terus bekerja dengan giat. Kalau sedang sakit, berdoa kepada Tuhan meminta kesembuhan sambil berobat.